Season 1.1 : INFILTRASI WARTEG ELEKTROMAGNETIK

Matahari Bogor siang itu lagi genit-genitnya, panasnya bukan main, seolah-olah awan lagi pada demo masak di atas kepala. Di sebuah pojokan warteg yang aroma udaranya didominasi oleh uap tumis kangkung dan keringat abang-abang proyek, duduklah seorang pria dengan kacamata hitam yang salah satu gagangnya disambung pake selotip hitam.

Dia adalah Bang Ben.

Ben mengenakan rompi taktis yang saku-sakunya lebih banyak berisi struk belanjaan dan kunci motor cadangan daripada granat asap. Di depannya, duduk Yamin, pemuda kurus yang wajahnya selalu kelihatan seperti orang yang baru bangun tidur tapi langsung disuruh ngerjain kalkulus.

"Min, lu liat nggak fluktuasi termodinamika di piring mendoan ini?" Ben berbisik, suaranya berat, dibuat-buat supaya mirip agen CIA yang lagi sariawan.

Yamin menatap tempe mendoan yang minyaknya masih menetes-netes. "Itu mah minyaknya kebanyakan, Bang. Kolesterol. Nggak usah pake termodinamika-termodinamikaan segala."

Ben menggeleng pelan, memberikan tatapan prihatin. "Itulah masalah lu, Min. Kurang literasi geopolitik kuliner. Secara molekuler, mendoan yang suhunya di atas 60 derajat Celcius dalam lingkungan terbuka kayak warteg Bahari ini, bisa berfungsi sebagai isolator sinyal frekuensi radio. Kalau ada agen musuh masang alat sadap di bawah meja ini, gelombang elektromagnetiknya bakal terdistorsi sama uap minyak mendoan. Ini yang namanya Tactical Oily Shield."Yamin cuma bisa menghela napas, lalu menyuap nasi ramesnya. "Terus, kenapa kita harus di sini jam segini? Katanya ada misi rahasia dari 'Pusat'?"

"Sssst!" Ben meletakkan jari telunjuknya di depan bibir. "Jangan sebut 'Pusat' di area publik. Kita sebut saja 'Entitas Atas'. Dan ya, menurut algoritma yang gue kembangkan semalam—pake Excel versi bajakan—target bakal lewat sini jam 12:15. Target membawa dokumen klasifikasi A."

"Targetnya siapa, Bang?"

"Tukang paket."

Yamin tersedak butiran nasi. "Tukang paket? Bang, itu mah paket casing HP lu yang lu beli pake paylater, kan?"

"Secara teknis, iya," jawab Ben tanpa ekspresi, sambil menyesap es teh manisnya dengan gaya seolah-olah itu adalah Martini shaken not stirred. "Tapi secara operasional, itu adalah alat komunikasi enkripsi tingkat tinggi yang disamarkan sebagai silikon transparan gambar kucing. Kita harus memastikan kurirnya bukan agen ganda dari pihak pinjol yang lagi nyamar."

Tiba-tiba, suara motor berhenti di depan warteg. Seorang pria berjaket oranye turun sambil membawa kotak kecil.

"Ben! Bang Ben ada?!" teriak kurir itu.

Ben langsung sigap. Dia berdiri, membetulkan rompi taktisnya yang agak miring karena keberatan beban kunci inggris di saku kanan. "Ini saatnya, Min. Ikuti protokol 'Salam Perkenalan'."

Yamin berdiri dengan malas-malasan di samping Ben. Si kurir mendekat dengan muka bingung melihat dua orang di depannya dandanannya aneh banget.

Ben berdehem, suaranya dicitrakan sedemikian rupa agar terdengar otoriter namun tetap berwibawa.

"Berhenti di situ, Saudara Kurir. Sebelum Anda menyerahkan unit transmisi tersebut, identitas kami perlu diverifikasi secara protokolar," ujar Ben. Dia menoleh ke Yamin. "Sekarang, Min!"

Yamin bergumam pelan, hampir nggak kedengaran, "Kami Ben..."

Ben menyambar dengan suara bariton yang menggelegar, "Yamin!"

"Ben-Yamin!" mereka berteriak barengan (meski Yamin cuma setengah hati).

Si kurir bengong. "Benjamin? Benjamin Sueb? Lah, udah meninggal Bang artisnya. Ini paketnya, tanda tangan di sini. Buruan, saya mau ngejar target 20 paket lagi."

Ben mengambil pulpen dari sakunya—pulpen yang sudah dimodifikasi dengan lilitan kabel tembaga supaya kelihatan seperti alat pemicu bom. "Dengar ya, Saudara. Dalam teori Asymmetric Warfare, kecepatan Anda dalam mengantar paket ini menunjukkan bahwa Anda memiliki akselerasi linear yang melampaui rata-rata kurir konvensional. Apakah Anda menggunakan mesin dengan sistem injeksi yang sudah di-remap menggunakan kode biner terlarang?"

Si kurir cuma melongo. "Maksud abang? Ini motor standar pabrik, Bang. Cuma ganti oli doang tiap bulan."

"Hah, itu jawaban tipikal agen yang sudah dilatih untuk menutupi modifikasi teknis," Ben bergumam sambil menandatangani resi dengan coretan yang lebih mirip pola detak jantung orang kaget. "Terima kasih. Anda boleh pergi. Tetap waspada, musuh ada di mana-mana, terutama di tikungan yang nggak ada spionnya."

Setelah kurir itu pergi, Ben kembali duduk dengan wajah puas. Dia meletakkan paket itu di meja warteg seolah-olah itu adalah hulu ledak nuklir.

"Lihat ini, Min. Casing HP ini bukan cuma pelindung. Secara struktural, bahan polimer ini bisa meredam radiasi otak yang keluar kalau kita kelamaan main slot... maksud gue, kalau kita lagi melakukan kalkulasi strategis tingkat tinggi. Ini adalah investasi pertahanan."

Yamin menatap paket itu, lalu menatap dompetnya sendiri yang tipisnya udah kayak kulit bawang. "Bang, lu sadar nggak sih? Tadi kita teriak 'Ben-Yamin' di depan orang banyak, dan sekarang semua abang proyek di sini ngeliatin kita kayak kita pasien RSJ yang lepas?"

Ben melihat sekeliling. Benar saja, tukang bangunan di pojokan lagi bisik-bisik sambil nunjuk-nunjuk mereka.

"Itu bukan tatapan aneh, Min," bisik Ben dengan penuh percaya diri. "Itu adalah tatapan kagum. Secara psikologi massa, ketika rakyat jelata melihat individu dengan tingkat intelejensia dan gaya sekeren kita, otak mereka bakal mengalami Cognitive Dissonance. Mereka bingung antara mau minta tanda tangan atau mau lapor polisi. Itulah defenisi dari 'Intel Kekinian'. Banyak gaya, tapi tetap membumi karena modal kita memang di bawah permukaan tanah."

"Modal cekak maksudnya?" potong Yamin.

"Tepat sekali. Itu namanya Low-Budget High-Profile Stealth Operation," Ben berdiri. "Ayo, habiskan es teh lu. Kita ada janji di markas besar."

"Markas besar mana lagi?"

"Bengkel Bang Kumis. Ban depan motor gue perlu di-kalibrasi ulang. Kayaknya ada sabotase dari pihak asing... atau emang udah gundul aja sih."

Next Episode ....

(Demi kelancaran aksi Ben-Yamin, jangan lupa share ya... )

Komentar