Pagi itu, Bogor tidak sedang mengirimkan hujan, melainkan kelembapan udara yang sanggup membuat daki di leher terasa seperti lem Fox. Di markas rahasia (teras kontrakan Ben yang luasnya cuma tiga langkah ubin), Bang Ben sedang melakukan "kalibrasi alat". Alat yang dimaksud adalah sebuah laser pointer mainan warna merah yang lampunya sudah kedap-kedip karena baterainya hasil kanibal dari remote TV.
"Min, perhatikan spektrum cahaya ini," Ben mengarahkan titik merah ke dinding yang catnya sudah berjamur membentuk peta buta dunia. "Secara optik, ini adalah Photon-Based Feline Luring Device. Kita menggunakan radiasi gelombang elektromagnetik pada frekuensi 650 nanometer untuk menstimulasi saraf motorik target."
Yamin, yang lagi sibuk mengoleskan balsem ke pinggangnya karena kemarin habis narik motor Supra yang mogok, menoleh malas. "Bang, itu mah senter laser dua ribuan yang dibeli di abang-abang SD. Bilang aja mau narik perhatian kucing."
"Itulah kesalahan fatal agen amatir kayak lu, Min. Lu terlalu terjebak pada nomenklatur pasar," Ben membetulkan letak kacamata hitamnya yang melorot karena keringat. "Dalam dunia Espionase Zoologi, kita nggak menyebutnya 'kucing'. Kita menyebutnya Feline Biological Unit atau FBU. Dan hari ini, kita punya kontrak High-Value Target."
Tiba-tiba, pagar kontrakan berderit. Masuklah Pak RW, pria paruh baya yang perutnya mendahului langkah kakinya sekitar lima belas sentimeter. Mukanya panik, tangannya memegang brosur fotokopian yang gambarnya burem.
"Ben! Tolongin saya, Ben! Si 'Snowy' ilang dari semalem!" seru Pak RW terengah-engah.
Ben berdiri dengan sikap sempurna, tangan kanannya masuk ke saku rompi taktis, seolah-olah lagi megang pistol (padahal lagi megang kunci gembok). "Tenang, Pak RW. Anda sedang berbicara dengan unit reaksi cepat. Silakan jelaskan spesifikasi teknis dari subjek yang hilang."
Pak RW melongo. "Hah? Spesifikasi? Pokoknya dia kucing Persia, bulunya putih, hidungnya pesek kayak keinjek, terus ada kalung loncengnya. Anak saya nangis bombay dari pagi."
Ben mengangguk pelan dengan gaya detektif film noir. "Hm, Persian Brachycephalic Variant. Menarik. Secara geopolitik, hilangnya Snowy bisa mengindikasikan adanya pergeseran kekuasaan di ekosistem selokan komplek kita. Min, catat!"
Yamin terpaksa mengambil buku nota warung yang isinya catatan utang kopi. "Udah, Bang. Terus gimana?"
"Pak RW," ujar Ben dengan suara berat. "Operasi ini membutuhkan sumber daya yang tidak sedikit. Ada biaya Operational Expenditure untuk pengadaan umpan protein hewani dan bahan bakar unit mobilitas."
Pak RW langsung mengeluarkan lembaran dua puluh ribuan dua lembar. "Ini buat beli bensin sama umpan. Kalau ketemu, saya tambahin buat makan siang di warung Padang depan!"
Mata Ben berkilat. "Kesepakatan tercapai. Serahkan sisanya pada kami."
Ben menoleh ke Yamin. "Sikat, Min! Protokol Identitas!"
Yamin
menarik napas panjang, mencoba mencari sisa-sisa harga diri yang tersisa di
ubin. "Kami Ben..."
Ben melakukan gerakan salto kecil yang gagal total dan berakhir dengan pose jongkok yang bikin celananya hampir robek, "Yamin!"
"Ben-Yamin!" teriak mereka berdua.
Pak RW cuma garuk-garuk perut. "Iya, Benyamin... mau Benjamin Sueb mau Benjamin Franklin, yang penting kucing saya balik! Buruan!"
Pencarian dimulai. Mereka menyusuri Gang Macan yang lebarnya cuma pas buat satu orang dewasa dan satu perasaan yang belum tersampaikan. Ben berjalan di depan dengan gaya Tactical Crouching—jalan jongkok tapi badannya tegap—yang sejujurnya cuma bikin dia kelihatan kayak orang yang lagi nahan boker akut.
"Min, aktifkan sensor penciuman lu. Gunakan teknik Olfactory Triangulation," perintah Ben.
"Caranya gimana, Bang?"
"Lu hirup udara dalam-dalam. Cari partikel bau Ammonia yang tajam dikombinasikan dengan aroma Tuna Whiskas. Kucing jenis Persia punya metabolisme yang lambat, tapi residu aromatiknya sangat distingtif di lingkungan tropis seperti Bogor yang tingkat humiditasnya mencapai 85%."
Yamin mencoba mengendus-endus. "Gue cuma nyium bau selokan sama bau jemuran belum kering, Bang."
"Sabar, Min. Deteksi intelijen itu butuh ketekunan. Lihat itu!" Ben menunjuk ke sebuah pohon kamboja di pojokan kuburan warga. Ada seekor kucing putih besar yang lagi duduk dengan angkuh di atas dahan.
"Itu si Snowy, Bang!" seru Yamin.
"Sssst! Jangan sebut nama aslinya. Gunakan kode Target Alpha," Ben mengeluarkan laser pointernya. "Gue bakal melakukan Distraction Maneuver pake laser ini. Lu merayap lewat belakang pohon, lakukan Physical Containment pake karung ini."
Ben melemparkan karung beras bekas ke Yamin. Yamin menatap karung itu dengan nanar. "Bang, ini karungnya bau terasi."
"Justru itu, Min! Terasi mengandung fermentasi udang yang secara molekuler mirip dengan feromon kucing jantan yang lagi agresif. Itu bakal bikin Target Alpha mengalami Cognitive Paralysis alias bingung mau lari atau mau makan."
Ben mulai memainkan laser merahnya di batang pohon. Si kucing putih mulai melirik. Titik merah bergerak-gerak, menari-nari dengan pola algoritma "ngalor-ngidul" khas Ben. Si kucing mulai gemas, pantatnya mulai goyang-goyangkan kiri-kanan (proses Pre-Attack Calibration menurut Ben).
"Sekarang, Min! Lakukan penyergapan!"
Yamin melompat dari balik semak-semak dengan karung terasinya. "Dapet lu, Pus!"
MEONG!!!
Suara lengkingan itu bukan berasal dari si kucing, tapi dari Yamin. Ternyata, si kucing bukan Snowy. Itu adalah kucing garong penguasa kuburan yang punya otot leher lebih gede daripada Yamin. Si kucing bukannya masuk karung, malah mencakar muka Yamin lalu meloncat ke kepala Bang Ben.
"Aduh! Aduh! Hostile Action! Hostile Action! Target melakukan serangan balik dengan kuku karbon aktif!" Ben teriak-teriak sambil muter-muter kayak gasing, mencoba melepaskan kucing yang nempel di kepalanya kayak helm bulu.
"Bang, diem Bang! Gue tangkap!" Yamin mencoba memukul kucing itu pake karung, tapi malah kena jidat Bang Ben.
PLAK!
Ben jatuh nyungsep ke tumpukan daun kering. Kucing itu lari sambil mengejek mereka dengan suara ngeong yang terdengar seperti tawa meremehkan.
Ben duduk sambil memegang jidatnya yang merah. Kacamata hitamnya patah jadi dua. "Min... lu liat nggak tadi?"
"Liat apa? Liat abang dipukulin kucing?"
"Bukan!" Ben mengatur napasnya yang senin-kamis. "Itu tadi bukan kucing biasa. Lu liat gerakan Agility-nya? Itu adalah hasil pelatihan militer khusus hewan di pangkalan rahasia antah-berantah. Itu tadi adalah Counter-Intelligence Feline yang dikirim buat menggagalkan misi kita!"
Yamin mengusap mukanya yang kena cakar. "Bang, itu kucing pasar yang biasa dikasih tulang pindang ama mpok Lela. Udahlah, ayo cari Snowy beneran."
Mereka lanjut jalan dengan kondisi babak belur. Ben tidak mau menyerah. Dia menggunakan sisa kacamata yang sebelah kiri saja, membuatnya kelihatan kayak bajak laut modal cekak.
Sampai akhirnya, mereka sampai di depan sebuah rumah mewah yang pagarnya tinggi banget. Ben berhenti mendadak. Dia mengeluarkan sebuah stetoskop medis yang ujungnya ditempel lakban ke sebuah botol plastik kosong.
"Apa lagi itu, Bang?" tanya Yamin lemas.
"Ini adalah Sub-Surface Seismic Audio Receiver," jawab Ben tanpa berkedip. Dia menempelkan botol itu ke dinding pagar rumah mewah tersebut. "Gue mendeteksi adanya getaran mekanis yang dihasilkan oleh pergeseran bulu pada permukaan sofa beludru."
"Bang, lu bisa denger bulu kucing gesekan ama sofa lewat tembok beton setebal dua puluh senti?"
"Secara teoritis, kalau lu punya intuisi frekuensi yang sudah terasah oleh kehidupan yang keras, semuanya mungkin, Min. Diam... gue denger sesuatu. Klining... klining..."
"Itu suara lonceng Snowy, Bang!"
Ben langsung sumringah. "Target terdeteksi di koordinat interior rumah ini. Kita harus melakukan infiltrasi vertikal."
Ben mencoba memanjat pagar, tapi karena tenaganya cuma sisa dari sarapan gorengan tadi pagi, dia cuma bisa gelantungan kayak jemuran handuk. Yamin terpaksa mendorong bokong Ben supaya bisa mencapai puncak pagar.
Saat Ben sampai di atas pagar, dia melihat ke dalam taman. Di sana, di atas kursi taman yang empuk, si Snowy lagi santai sambil dijilatin sama kucing liar lain yang tampangnya preman banget.
"Min! Snowy lagi disandera sama sindikat kucing lokal!" bisik Ben dramatis.
Tiba-tiba, lampu taman menyala terang benderang. Seorang satpam bertubuh sekuritas—alias gede banget—muncul dari balik pos sambil bawa pentungan.
"Woi! Ngapain lu di atas pagar?!" teriak si Satpam.
Ben kaget. Dia mencoba memasang muka intelejennya yang paling keren meski posisinya lagi nyangkut di duri pagar.
"Selamat malam, Petugas Keamanan," ujar Ben dengan wibawa yang dipaksakan. "Kami dari divisi Global Asset Recovery. Kami mendeteksi adanya aset milik otoritas lingkungan (Pak RW) yang terperangkap dalam jurisdiksi Anda tanpa dokumen imigrasi yang sah."
Satpam itu melongo. "Ngomong apa lu? Mau maling ya?!"
Ben menoleh ke bawah, ke arah Yamin yang lagi ngumpet di balik tong sampah. "Min! Emergency Protocol! Kenalkan kita siapa!"
Yamin muncul dengan ragu-ragu. "Kami Ben..."
Ben (sambil berusaha turun dari pagar tapi celananya nyangkut): "Yamin!"
"Ben-Yamin!"
Si Satpam terdiam sebentar, lalu mengeluarkan HT-nya. "Pusat, pusat. Ada dua orang aneh di depan rumah nomor 12. Ngaku-ngaku Benyamin. Kayaknya pasien kabur dari rehab. Mohon bantuan unit buat ngusir."
Ben akhirnya berhasil turun dengan cara jatuh bebas dan mendarat tepat di atas tumpukan sampah plastik. Snowy yang kaget denger keributan itu langsung loncat dan lari keluar pagar, masuk ke pelukan Yamin yang emang udah nunggu di bawah.
"Bang! Snowy dapet! Ayo kabur!" teriak Yamin.
"Tahan, Min! Jangan lari dengan gaya amatir! Lari dengan pola Zig-Zag Tactical buat menghindari kemungkinan tembakan obat bius!" teriak Ben sambil lari terbirit-birit mengikuti Yamin.
Satu jam kemudian, di teras rumah Pak RW. Snowy sudah kembali ke pangkuan pemiliknya. Pak RW kelihatan senang banget, meski dia agak heran liat Ben dan Yamin yang penampilannya udah kayak abis perang di hutan beton: baju robek, jidat benjol, dan bau terasi menyengat.
"Hebat juga lu, Ben. Bisa ketemu di rumah Pak Haji Sulam," kata Pak RW sambil menyerahkan sepiring nasi Padang dengan rendang yang bumbunya melimpah.
Ben duduk dengan gaya tegak, meski badannya pegal semua. "Itu semua berkat analisis Spatial-Dynamic dan penggunaan teknologi Seismic Audio, Pak RW. Proses ekstraksi target tadi berlangsung cukup intens karena adanya resistensi dari pihak keamanan lokal yang tidak kooperatif."
Yamin cuma fokus makan, nggak peduli sama bualan Ben.
"Ya sudah, ini tambahan buat kalian," Pak RW memberikan lembaran lima puluh ribu. "Kerja bagus, Ben-Yamin."
Setelah Pak RW masuk ke rumah, Ben menatap uang itu dengan bangga. Dia membagi dua uangnya dengan Yamin (meski dia ngambil bagian lebih banyak karena alasan "Biaya Maintenance Alat").
"Min," Ben berbisik sambil mengunyah rendang. "Hari ini kita membuktikan satu hal."
"Apaan, Bang?"
"Bahwa dalam dunia intelijen kekinian, modal cekak bukan penghalang selama kita punya terminologi akademik yang bisa bikin orang bingung sampai mereka males nanya lagi. Kita sukses melakukan Low-Cost Rescue Operation."
"Tapi celana lu robek di bagian selangkangan, Bang," kata Yamin polos.
Ben
terdiam sebentar, melihat ke bawah. Benar saja, ada ventilasi udara alami di celananya.
Tapi Ben tetap Ben.
Yamin
cuma bisa geleng-geleng kepala sambil terus melahap nasi Padangnya. Operasi
"Kucing Garong" selesai, tapi dia tahu, besok pasti ada kegilaan baru
dari Bang Ben.
Next Episode ...
(Demi kelancaran aksi Ben-Yamin, jangan lupa share ya... )

Komentar
Posting Komentar