Matahari Bogor siang itu seakan-akan lagi dapet diskon besar-besaran, panasnya minta ampun. Di lantai paling atas parkiran sebuah mal yang catnya sudah mulai mengelupas mirip kerupuk udang, Bang Ben sedang melakukan "Final Pre-Flight Check".
Di depannya, ada sebuah benda yang kalau dilihat sekilas mirip sampah elektronik yang barusan kena ledakan kecil. Itu adalah sebuah kipas angin meja merek Maspion yang baling-balingnya sudah dicopot, lalu diganti dengan potongan botol Aqua yang dipilin sedemikian rupa. Di tengahnya, terikat sebuah power bank kapsul warna pink dan sebuah smartphone layar retak yang ditempel pakai karet gelang.
"Min, perkenalkan... The Dragonfly-9 Stealth Surveillance UAV," ujar Ben dengan nada bangga, seolah-olah dia baru saja meluncurkan roket SpaceX dari atas gedung parkiran.
Yamin, yang bertugas memegangi payung hitam supaya "markas" mereka nggak kepanasan, menatap benda itu dengan tatapan kosong. "Bang, itu kipas angin kamar lu kan? Yang bunyinya kayak helikopter jatuh itu? Kenapa sekarang ada kabel melintang ke HP lu?"
Ben mendengus, memberikan tatapan "lu-nggak-bakal-paham-sains" ke arah Yamin. "Min, secara Aerodynamic Fluid Dynamics, baling-baling konvensional itu terlalu berisik untuk operasi infiltrasi. Gue sudah memodifikasi sudut inklinasi dari potongan botol ini supaya menciptakan Laminar Flow yang terfragmentasi. Secara teori Quantum Mechanics tingkat RT, benda ini nggak akan terlihat oleh radar... maupun mata manusia yang nggak punya visi futuristik."
"Tapi Bang, itu beratnya ada sekilo. Gimana cara terbangnya? Pake doa?" tanya Yamin kritis.
"Itulah fungsinya Centrifugal Torque Compensation," Ben menjelaskan sambil memutar-mutar kabel data. "Gue nggak menerbangkannya pake baling-baling doang. Gue bakal melemparnya pake teknik cakram atletik, lalu mesin kipas ini bakal memberikan dorongan tambahan untuk menjaga Glide Ratio agar tetap stabil di atas koordinat target. Ini adalah Man-Powered Vertical Take-Off."
Target mereka hari ini adalah seorang pria berkemeja kotak-kotak yang duduk di bangku taman mal di bawah sana. Menurut "Intelijen" Ben (yang sebenarnya cuma hasil nguping pembicaraan di angkot 06), pria itu adalah "Kurir Enkripsi Data" yang sering melakukan transaksi gelap. Padahal, kalau dilihat-lihat, itu orang cuma lagi nunggu istrinya belanja sambil main Mobile Legends.
"Oke, Min. Siapkan unit perekam. Gue bakal melakukan Launch Sequence," Ben mengambil ancang-ancang. Dia memegang leher kipas angin itu seperti atlet lempar lembing yang lagi kena saraf kejepit.
"Tunggu, Bang! Itu kabelnya nyangkut di kancing rompi lu!" teriak Yamin.
Terlambat. Ben sudah memutar badannya 360 derajat. Dengan teriakan "FOR THE NATION!", dia melempar "drone" itu sekuat tenaga.
Bukannya terbang elegan menyisir cakrawala, si "Dragonfly-9" malah melakukan manuver bunuh diri. Karena kabelnya nyangkut di kancing rompi Ben, drone itu nggak meluncur ke depan, melainkan muter-muter di atas kepala Ben kayak bumerang yang lagi depresi.
"Aduh! Aduh! System Malfunction! Gravity Reversal!" Ben teriak-teriak sambil berusaha menghindar dari baling-baling botol Aqua yang muter liar.
BRAK!
Drone itu mendarat tepat di atas sebuah mobil Fortuner hitam yang kinclongnya bisa buat ngaca. Power bank-nya lepas, smartphone-nya terpelanting, dan mesin kipas anginnya masih muter-muter ngeluarin asap tipis di atas kap mobil orang.
"Waduh, Bang... itu mobil siapa? Kayaknya mobil orang penting," bisik Yamin pucat pasi.
Belum sempat Ben menjawab, alarm mobil itu berbunyi kencang banget. TIT-TIT-TIT-TIT! Sepersekian detik kemudian, dua orang pria berbadan kotak dengan kacamata hitam (yang aslinya, bukan selotipan kayak punya Ben) muncul dari balik pilar parkiran.
"Woi! Siapa yang lempar kipas angin ke mobil Pak Bos?!" bentak salah satu dari mereka.
Ben langsung mematung. Keringat dinginnya menetes, bercampur dengan minyak rambut sachet-nya. Tapi, sebagai intelejen kekinian, panik itu haram. Dia langsung membusungkan dada, meski kakinya agak gemetar kayak mesin cuci lagi ngeringin baju.
"Tenang, Saudara-saudara. Kami adalah tim audit Atmospheric Pressure and Urban Safety. Kami baru saja melakukan pengetesan terhadap resistensi material kendaraan ini terhadap benturan benda tumpul berbasis polimer," ujar Ben dengan nada sangat akademis-ngawur.
Dua orang berbadan kotak itu saling pandang, lalu menatap Ben dengan tatapan "ini orang minta digebukin atau gimana?". Mereka mendekat dengan langkah yang sangat tidak ramah.
"Audit palelu peyang! Ini kap mobil penyok! Lu siapa?!"
Ben menoleh ke Yamin yang sudah siap-siap mau loncat dari lantai 4 saking takutnya. "Min! Strategic Introduction Protocol! Sekarang, sebelum kita di-deportasi ke alam barzah!"
Yamin maju selangkah, suaranya gemetar kayak kerupuk kena air. "Ka-kami... Ben..."
Ben melakukan gerakan tangan seperti orang lagi silat tapi lebih mirip orang lagi ngusir lalat, "Yamin!"
"Ben-Yamin!" teriak mereka berbarengan, bergema di seluruh lantai parkiran.
Salah satu pria berbadan kotak itu berhenti melangkah. Dia mengernyitkan dahi. "Benyamin? Lu anak buahnya Haji Lulung atau gimana? Nama grup lawak lu nggak lucu, tahu nggak?!"
Ben menyesuaikan letak kacamatanya yang tinggal sebelah. "Dengar, Saudara. Secara yurisdiksi, insiden ini dikategorikan sebagai Force Majeure akibat anomali gravitasi lokal yang tidak terprediksi oleh algoritma BMKG. Saya sarankan kita melakukan penyelesaian secara Out-of-Court Settlement alias damai di bawah tangan... atau kalau boleh, saya cicil kerusakannya pake voucher makan gratis di kantin karyawan."
Si pria besar itu sudah mengepalkan tangan. "Voucher palelu! Sini lu!"
"Min! Tactical Retreat! Gunakan pola lari Double-Helix!" teriak Ben.
Ben dan Yamin langsung lari terbirit-birit, bukan lewat tangga darurat, melainkan lewat jalur turunan mobil yang spiral. Ben lari sambil memegang rompinya yang berkibar-kibar, sementara Yamin lari sambil nenteng payung hitam yang terbuka lebar, membuatnya kelihatan seperti Mary Poppins yang lagi dikejar debt collector.
"Bang! Kenapa kita lari muter-muter begini?! Pusing, Bang!" teriak Yamin di tengah napasnya yang sudah tinggal ampas.
"Ini namanya teknik Centrifugal Evasion, Min! Secara kinetik, kalau kita lari muter di jalur spiral ini, musuh bakal mengalami Vertigo Kinetic karena fokus mata mereka terdistraksi oleh percepatan sudut kita! Terus lari! Jangan liat belakang!"
Mereka berdua akhirnya sampai di lantai dasar, melompati portal parkir, dan langsung nyungsep ke dalam angkot 06 yang kebetulan lagi ngetem.
"Jalan, Bang! Jalan! Ada agen asing ngejar!" teriak Ben ke supir angkot.
Supir angkotnya cuma melirik lewat spion tengah. "Agen asing apaan? Itu mah sekuriti mal, Bang. Belum bayar parkir ya lu?"
Ben mengatur napasnya, mencoba merapikan rambutnya yang sudah acak-adakan kayak sarang burung emprit. Dia menoleh ke arah jendela, melihat dua orang besar tadi masih berdiri di depan mal sambil mencak-mencak.
"Lihat itu, Min," bisik Ben sambil mengelap keringat pake ujung rompi. "Mereka gagal menangkap kita. Itu membuktikan bahwa sistem Stealth Evasion gue bekerja 100%."
Yamin cuma bisa bersandar di kursi angkot yang bau apek, sambil memandangi payungnya yang sudah patah. "Bang... drone lu ketinggalan di atas mobil mereka. HP lu juga."
Ben terdiam. Dia meraba-raba saku rompinya. Benar saja, kosong.
"Min..." Ben menatap Yamin dengan tatapan dalam.
"Apa, Bang?"
"Secara operasional, itu namanya Strategic Sacrifice. Kita sengaja meninggalkan perangkat keras kita di sana supaya mereka sibuk menganalisis teknologi kita yang canggih itu, sementara kita sudah jauh melampaui koordinat pengejaran. Itu adalah metode 'Umpan Balik' dalam dunia intelijen tingkat tinggi."
"Tapi Bang, itu HP satu-satunya yang masih bisa buat buka WhatsApp grup keluarga..."
Ben menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis. "Tenang, Min. HP itu sudah gue pasang sistem Self-Destruct secara psikologis. Kalau mereka buka galeri fotonya, mereka bakal nemu foto-foto selfie gue yang belum diedit. Itu bakal memberikan trauma visual permanen pada sistem saraf mereka. Itu adalah senjata biologis paling ampuh yang kita punya."
Yamin cuma bisa merem. "Terserah lu dah, Bang. Pokoknya habis ini kita makan. Gue laper."
"Oke,
tapi lu yang bayar ya? Dompet gue ketinggalan di casing HP yang nyangkut di
mobil tadi."
Next Episode ...
(Demi kelancaran aksi Ben-Yamin, jangan lupa share ya... )

Komentar
Posting Komentar