Season.1.5 : PROTOKOL JAMU GENDONG

Pagi di kawasan industri pinggiran Bogor biasanya dihiasi oleh kepulan asap knalpot bus karyawan yang aromanya mirip pembakaran ban bekas. Di balik tembok beton yang penuh coretan "Terima Sedot WC", Bang Ben sedang melakukan transformasi identitas paling radikal dalam sejarah spionase amatir.

Dia tidak lagi memakai rompi taktisnya. Sebagai gantinya, Ben mengenakan kebaya motif bunga-bunga yang kancingnya hampir menyerah menahan beban perutnya, dipadu dengan kain jarit yang lilitannya sudah dua kali diperbaiki Yamin supaya nggak melorot di tengah jalan. Jangan lupakan wig rambut sanggul yang posisinya agak miring ke kiri, membuat Ben kelihatan seperti Ibu Kartini yang kebanyakan begadang main gaple.

"Min, perhatikan struktur Epidermal Camouflage gue," bisik Ben sambil mencoba membetulkan letak stoking yang dia pakai sebagai pengganti kaos kaki. Suaranya diubah jadi cempreng-berat yang sangat tidak meyakinkan.

Yamin, yang berdiri di sampingnya mengenakan baju pangsi hitam dan topi caping, menatap Ben dengan tatapan penuh penyesalan telah lahir ke dunia ini. "Bang... ini benar-benar ide paling buruk sejak lu nyoba ngecas HP pake kabel antena TV. Kenapa lu harus jadi tukang jamu? Kenapa nggak jadi tukang sol sepatu aja yang lebih... maskulin?"

Ben mendengus, membuat sanggulnya makin miring. "Itulah limitasi pemikiran strategis lu, Min. Secara Sociological Infiltration Theory, tukang jamu adalah entitas yang punya akses unlimited ke semua lapisan masyarakat tanpa memicu alarm kecurigaan. Jamu ini bukan sekadar minuman herbal, Min. Ini adalah Liquid-Based Bio-Chemical Information Delivery System."

"Maksudnya, Bang?"

"Secara molekuler, bau kencur dan temulawak ini berfungsi sebagai Olfactory Masking. Orang nggak bakal nyium bau keringat ketakutan kita karena kalah sama bau jamu pahitan ini. Terus, botol-botol di bakul ini? Ini adalah wadah penyimpanan data rahasia yang gue samarkan sebagai cairan berwarna kuning," Ben menunjuk botol sirup bekas yang isinya air kunyit asem. "Target kita hari ini adalah 'Si Gondrong', informan kunci yang katanya sering nongkrong di bedeng proyek jembatan itu."

Yamin membetulkan letak capingnya. "Terus gue jadi apa, Bang? Kenapa gue harus bawa-bawa ember isi es batu begini?"

"Lu adalah Mobile Cooling Unit and Security Escort. Tugas lu memastikan suhu operasional gue tetap stabil dan melakukan Peripheral Shielding kalau ada yang mau nyolek-nyolek gue. Ingat, dalam penyamaran ini, gue adalah 'Mbak Beniyati'. Jangan sampai salah panggil."

Mereka mulai berjalan menuju bedeng proyek. Ben berjalan dengan gaya yang dia sebut sebagai Graceful Tactical Stride—yang aslinya cuma langkah-langkah kecil karena kain jaritnya terlalu ketat, membuatnya kelihatan seperti penguin yang lagi kena encok.

Sampai di depan kerumunan kuli bangunan yang lagi istirahat, Ben langsung beraksi.

"Jamu... jamuuu... Jamu penambah stamina intelektual dan kestabilan hormon geopolitik, Monggooo..." teriak Ben dengan suara yang entah kenapa malah mirip suara knalpot Bajaj bocor.

Para kuli bangunan itu menoleh. Salah satu dari mereka, pria bertubuh kekar dengan tato naga yang kepalanya mirip cacing tanah, memanggil mereka. "Woi, Mbak! Jamu kuat ada nggak?"

Ben mendekat dengan penuh percaya diri. "Wah, tentu saja ada, Mas. Secara farmakologis, ramuan saya mengandung ekstrak Zingiber officinale yang sudah di-radiasi dengan gelombang mikro untuk meningkatkan Blood Oxygen Saturation. Dijamin, abis minum ini, Mas bisa angkat molen semen pake satu tangan."

Si Gondrong—target mereka—ternyata ada di sana. Dia memperhatikan Ben dengan curiga. "Mbak, kok kumisnya masih ada tipis-tipis gitu? Pakai krim hormon apa gimana?"

Ben kaget, refleks memegang atas bibirnya. "Oalah, ini bukan kumis, Mas. Ini adalah Residual Shadowing akibat terpapar sinar UV berlebih saat melakukan observasi lapangan... maksud saya, kelamaan jualan di pasar."

Yamin langsung menyikut Ben. "Protokol Identitas, Bang! Biar mereka nggak nanya-nanya lagi!" bisiknya panik.

Ben menarik napas dalam, membetulkan bakul jamu di punggungnya. Dia memberi kode ke Yamin.

Yamin (sambil mengangkat ember es batunya): "Kami Ben..."

Ben (dengan gerakan pinggul yang dipaksakan dan tangan membentuk tanda 'V'): "Yamin!"

"Ben-Yamin!" teriak mereka barengan.

Para kuli bangunan itu diam seribu bahasa. Keheningan yang tercipta bahkan lebih horor daripada film pengabdi setan. Tiba-tiba, Si Gondrong berdiri.

"Benyamin? Lu berdua dari grup lawak mana? Atau jangan-jangan lu intel yang mau nangkep gue gara-gara masalah uang kas lingkungan kemarin?!" teriak Si Gondrong sambil menunjuk Ben.

Ben panik. Penyamarannya terancam gagal secara fundamental. "Tenang, Saudara Gondrong! Kami hanya melakukan Verification of Integrity terhadap ekosistem sosial di sini! Jangan lakukan gerakan Hostile!"

Tapi terlambat, para kuli itu mulai berdiri, merasa terganggu waktu istirahatnya. Si Gondrong mencoba kabur lewat celah bedeng.

"Min! Target melakukan Evasive Maneuver! Kejar pake teknik High-Speed Jarit Running!" teriak Ben.

Ben mencoba lari mengejar Si Gondrong, tapi karena jaritnya terlalu ketat, dia malah jatuh tersungkur. Bakul jamunya terlepas, botol-botol sirup berisi air kunyit pecah dan membasahi kebaya mawarnya. Bau kencur langsung memenuhi udara seperti ledakan pabrik jamu herbal.

"Aduh! Chemical Leak! Chemical Leak! Area ini terkontaminasi zat kuning!" Ben teriak sambil berusaha berdiri dengan sanggul yang sekarang sudah pindah ke janggutnya.

Yamin lebih sigap. Dia melempar ember es batunya ke arah kaki Si Gondrong. Si Gondrong terpeleset es batu dan jatuh nyungsep ke dalam tumpukan pasir proyek.

PLUK!

"Kena lu, Target Alpha!" seru Yamin.

Ben sampai di depan Si Gondrong yang mukanya penuh pasir. Ben berdiri tegak (meski jaritnya robek di bagian paha, memperlihatkan celana kolor bola warna birunya). Dia menatap Si Gondrong dengan kacamata hitam yang tadi sempat dia kantongi di balik kebaya.

"Dengar, Gondrong. Secara jurisdiksi, Anda berada dalam pengawasan unit Ben-Yamin. Sekarang, jelaskan secara Comprehensive dan mendalam: Di mana lokasi gudang kabel telepon sisa yang lu colong minggu kemarin?" tanya Ben dengan nada mengintimidasi.

Si Gondrong gemetar. "Ampun, Bang Benyamin! Saya nggak nyolong kabel! Saya cuma dititipin sama Ujang! Sumpah, ini masalah Miss-Communication logistik doang!"

"Hah! Itu adalah jawaban standar agen medioker," Ben mengeluarkan smartphone-nya yang layarnya retak (untung sudah ketemu di bab sebelumnya, ceritanya gitu). "Min, catat koordinatnya. Kita akan melakukan Asset Recovery segera setelah gue ganti baju yang lebih... aerodinamis."

Tiba-tiba, dari arah belakang, terdengar suara peluit nyaring. Ternyata mandor proyek datang bersama sekuriti.

"Woi! Siapa itu yang bikin rusuh di bedeng?! Tukang jamu kok berantem?!"

Ben menoleh, melihat sekuriti yang badannya lebih lebar daripada pintu kamar kontrakannya. "Min, saatnya melakukan Strategic Disappearance!"

"Lewat mana, Bang?!"

"Gunakan protokol Sliding on Mud! Ikuti gue!"

Ben melakukan seluncuran maut di atas tanah becek proyek, memanfaatkan licinnya air jamu kunyit yang membasahi bajunya. Dia meluncur seperti pemain baseball profesional, diikuti Yamin yang merosot sambil memegang capingnya. Mereka berhasil melewati kolong truk semen dan menghilang di balik rimbunnya pohon pisang.


Sepuluh menit kemudian, di pinggir empang yang tenang. Ben duduk sambil mencopot wig sanggulnya yang sudah mirip sarang tikus tanah. Kebayanya penuh lumpur dan sisa kunyit, membuatnya kelihatan seperti korban kecelakaan di pabrik pewarna tekstil.

"Min," Ben mengatur napas. "Operasi kali ini sukses besar. Kita dapet pengakuan dari Target Alpha."

Yamin mencuci mukanya di air empang. "Sukses apa sih, Bang? Kita dikejar mandor, baju lu ancur, dan kita bau kencur sampe ke pori-pori. Yang ada malah orang makin hapal muka kita kalau kita lewat sana lagi."

Ben tersenyum simpul, sebuah senyum yang hanya dimiliki oleh orang-orang dengan tingkat kepercayaan diri di atas rata-rata manusia normal.

"Itulah kehebatan dari Bio-Chemical Camouflage, Min. Besok, bau kencur ini bakal hilang, dan identitas 'Mbak Beniyati' akan lenyap dari memori kolektif mereka, digantikan oleh trauma psikis yang mendalam. Mereka nggak akan ingat wajah kita, mereka cuma akan ingat 'Tukang Jamu Berkumis yang Jago Ngesot'. Itu adalah Legend-Based Obfuscation."

Ben berdiri, mencoba memperbaiki lilitan jaritnya yang sekarang sudah mirip handuk mandi.

"Ayo, Min. Kita harus segera kembali ke markas. Gue harus melakukan de-kontaminasi tubuh pake sabun colek, dan kita harus merencanakan Bab 6."

"Bab 6 apaan, Bang?"

"Cyber Security, Min. Gue bakal nge-hack Wi-Fi warung kopi sebelah buat mendownload peta satelit... atau minimal update status Facebook biar orang tahu kita masih aktif."

Next Episode ...

(Demi kelancaran aksi Ben-Yamin, jangan lupa share ya... )

Komentar