Pagi di kawasan industri pinggiran Bogor biasanya dihiasi oleh kepulan asap knalpot bus karyawan yang aromanya mirip pembakaran ban bekas. Di balik tembok beton yang penuh coretan "Terima Sedot WC", Bang Ben sedang melakukan transformasi identitas paling radikal dalam sejarah spionase amatir.
Dia tidak
lagi memakai rompi taktisnya. Sebagai gantinya, Ben mengenakan kebaya motif
bunga-bunga yang kancingnya hampir menyerah menahan beban perutnya, dipadu
dengan kain jarit yang lilitannya sudah dua kali diperbaiki Yamin supaya nggak
melorot di tengah jalan. Jangan lupakan wig rambut sanggul yang posisinya agak
miring ke kiri, membuat Ben kelihatan seperti Ibu Kartini yang kebanyakan
begadang main gaple.
"Min,
perhatikan struktur Epidermal Camouflage gue," bisik Ben sambil
mencoba membetulkan letak stoking yang dia pakai sebagai pengganti kaos kaki.
Suaranya diubah jadi cempreng-berat yang sangat tidak meyakinkan.
Yamin, yang
berdiri di sampingnya mengenakan baju pangsi hitam dan topi caping, menatap Ben
dengan tatapan penuh penyesalan telah lahir ke dunia ini. "Bang... ini
benar-benar ide paling buruk sejak lu nyoba ngecas HP pake kabel antena TV.
Kenapa lu harus jadi tukang jamu? Kenapa nggak jadi tukang sol sepatu aja yang
lebih... maskulin?"
Ben mendengus,
membuat sanggulnya makin miring. "Itulah limitasi pemikiran strategis lu,
Min. Secara Sociological Infiltration Theory, tukang jamu adalah entitas
yang punya akses unlimited ke semua lapisan masyarakat tanpa memicu
alarm kecurigaan. Jamu ini bukan sekadar minuman herbal, Min. Ini adalah Liquid-Based
Bio-Chemical Information Delivery System."
"Maksudnya,
Bang?"
"Secara
molekuler, bau kencur dan temulawak ini berfungsi sebagai Olfactory Masking.
Orang nggak bakal nyium bau keringat ketakutan kita karena kalah sama bau jamu
pahitan ini. Terus, botol-botol di bakul ini? Ini adalah wadah penyimpanan data
rahasia yang gue samarkan sebagai cairan berwarna kuning," Ben menunjuk
botol sirup bekas yang isinya air kunyit asem. "Target kita hari ini
adalah 'Si Gondrong', informan kunci yang katanya sering nongkrong di bedeng
proyek jembatan itu."
Yamin
membetulkan letak capingnya. "Terus gue jadi apa, Bang? Kenapa gue harus
bawa-bawa ember isi es batu begini?"
"Lu
adalah Mobile Cooling Unit and Security Escort. Tugas lu memastikan suhu
operasional gue tetap stabil dan melakukan Peripheral Shielding kalau
ada yang mau nyolek-nyolek gue. Ingat, dalam penyamaran ini, gue adalah 'Mbak
Beniyati'. Jangan sampai salah panggil."
Mereka
mulai berjalan menuju bedeng proyek. Ben berjalan dengan gaya yang dia sebut
sebagai Graceful Tactical Stride—yang aslinya cuma langkah-langkah kecil
karena kain jaritnya terlalu ketat, membuatnya kelihatan seperti penguin yang
lagi kena encok.
Sampai di
depan kerumunan kuli bangunan yang lagi istirahat, Ben langsung beraksi.
"Jamu...
jamuuu... Jamu penambah stamina intelektual dan kestabilan hormon geopolitik,
Monggooo..." teriak Ben dengan suara yang entah kenapa malah mirip suara
knalpot Bajaj bocor.
Para kuli
bangunan itu menoleh. Salah satu dari mereka, pria bertubuh kekar dengan tato
naga yang kepalanya mirip cacing tanah, memanggil mereka. "Woi, Mbak! Jamu
kuat ada nggak?"
Ben
mendekat dengan penuh percaya diri. "Wah, tentu saja ada, Mas. Secara
farmakologis, ramuan saya mengandung ekstrak Zingiber officinale yang
sudah di-radiasi dengan gelombang mikro untuk meningkatkan Blood Oxygen
Saturation. Dijamin, abis minum ini, Mas bisa angkat molen semen pake satu
tangan."
Si
Gondrong—target mereka—ternyata ada di sana. Dia memperhatikan Ben dengan
curiga. "Mbak, kok kumisnya masih ada tipis-tipis gitu? Pakai krim hormon
apa gimana?"
Ben kaget,
refleks memegang atas bibirnya. "Oalah, ini bukan kumis, Mas. Ini adalah Residual
Shadowing akibat terpapar sinar UV berlebih saat melakukan observasi lapangan...
maksud saya, kelamaan jualan di pasar."
Yamin
langsung menyikut Ben. "Protokol Identitas, Bang! Biar mereka nggak
nanya-nanya lagi!" bisiknya panik.
Ben menarik
napas dalam, membetulkan bakul jamu di punggungnya. Dia memberi kode ke Yamin.
Yamin
(sambil mengangkat ember es batunya): "Kami Ben..."
Ben (dengan
gerakan pinggul yang dipaksakan dan tangan membentuk tanda 'V'):
"Yamin!"
"Ben-Yamin!"
teriak mereka barengan.
Para kuli
bangunan itu diam seribu bahasa. Keheningan yang tercipta bahkan lebih horor
daripada film pengabdi setan. Tiba-tiba, Si Gondrong berdiri.
"Benyamin?
Lu berdua dari grup lawak mana? Atau jangan-jangan lu intel yang mau nangkep
gue gara-gara masalah uang kas lingkungan kemarin?!" teriak Si Gondrong
sambil menunjuk Ben.
Ben panik.
Penyamarannya terancam gagal secara fundamental. "Tenang, Saudara
Gondrong! Kami hanya melakukan Verification of Integrity terhadap
ekosistem sosial di sini! Jangan lakukan gerakan Hostile!"
Tapi
terlambat, para kuli itu mulai berdiri, merasa terganggu waktu istirahatnya. Si
Gondrong mencoba kabur lewat celah bedeng.
"Min!
Target melakukan Evasive Maneuver! Kejar pake teknik High-Speed Jarit
Running!" teriak Ben.
Ben mencoba
lari mengejar Si Gondrong, tapi karena jaritnya terlalu ketat, dia malah jatuh
tersungkur. Bakul jamunya terlepas, botol-botol sirup berisi air kunyit pecah
dan membasahi kebaya mawarnya. Bau kencur langsung memenuhi udara seperti
ledakan pabrik jamu herbal.
"Aduh!
Chemical Leak! Chemical Leak! Area ini terkontaminasi zat kuning!"
Ben teriak sambil berusaha berdiri dengan sanggul yang sekarang sudah pindah ke
janggutnya.
Yamin lebih
sigap. Dia melempar ember es batunya ke arah kaki Si Gondrong. Si Gondrong
terpeleset es batu dan jatuh nyungsep ke dalam tumpukan pasir proyek.
PLUK!
"Kena
lu, Target Alpha!" seru Yamin.
Ben sampai
di depan Si Gondrong yang mukanya penuh pasir. Ben berdiri tegak (meski
jaritnya robek di bagian paha, memperlihatkan celana kolor bola warna birunya).
Dia menatap Si Gondrong dengan kacamata hitam yang tadi sempat dia kantongi di
balik kebaya.
"Dengar,
Gondrong. Secara jurisdiksi, Anda berada dalam pengawasan unit Ben-Yamin.
Sekarang, jelaskan secara Comprehensive dan mendalam: Di mana lokasi
gudang kabel telepon sisa yang lu colong minggu kemarin?" tanya Ben dengan
nada mengintimidasi.
Si Gondrong
gemetar. "Ampun, Bang Benyamin! Saya nggak nyolong kabel! Saya cuma
dititipin sama Ujang! Sumpah, ini masalah Miss-Communication logistik
doang!"
"Hah!
Itu adalah jawaban standar agen medioker," Ben mengeluarkan smartphone-nya
yang layarnya retak (untung sudah ketemu di bab sebelumnya, ceritanya gitu).
"Min, catat koordinatnya. Kita akan melakukan Asset Recovery segera
setelah gue ganti baju yang lebih... aerodinamis."
Tiba-tiba,
dari arah belakang, terdengar suara peluit nyaring. Ternyata mandor proyek
datang bersama sekuriti.
"Woi!
Siapa itu yang bikin rusuh di bedeng?! Tukang jamu kok berantem?!"
Ben
menoleh, melihat sekuriti yang badannya lebih lebar daripada pintu kamar
kontrakannya. "Min, saatnya melakukan Strategic Disappearance!"
"Lewat
mana, Bang?!"
"Gunakan
protokol Sliding on Mud! Ikuti gue!"
Ben
melakukan seluncuran maut di atas tanah becek proyek, memanfaatkan licinnya air
jamu kunyit yang membasahi bajunya. Dia meluncur seperti pemain baseball profesional,
diikuti Yamin yang merosot sambil memegang capingnya. Mereka berhasil melewati
kolong truk semen dan menghilang di balik rimbunnya pohon pisang.
Sepuluh
menit kemudian, di pinggir empang yang tenang. Ben duduk sambil mencopot wig
sanggulnya yang sudah mirip sarang tikus tanah. Kebayanya penuh lumpur dan sisa
kunyit, membuatnya kelihatan seperti korban kecelakaan di pabrik pewarna
tekstil.
"Min,"
Ben mengatur napas. "Operasi kali ini sukses besar. Kita dapet pengakuan
dari Target Alpha."
Yamin mencuci
mukanya di air empang. "Sukses apa sih, Bang? Kita dikejar mandor, baju lu
ancur, dan kita bau kencur sampe ke pori-pori. Yang ada malah orang makin hapal
muka kita kalau kita lewat sana lagi."
Ben
tersenyum simpul, sebuah senyum yang hanya dimiliki oleh orang-orang dengan
tingkat kepercayaan diri di atas rata-rata manusia normal.
"Itulah
kehebatan dari Bio-Chemical Camouflage, Min. Besok, bau kencur ini bakal
hilang, dan identitas 'Mbak Beniyati' akan lenyap dari memori kolektif mereka,
digantikan oleh trauma psikis yang mendalam. Mereka nggak akan ingat wajah
kita, mereka cuma akan ingat 'Tukang Jamu Berkumis yang Jago Ngesot'. Itu
adalah Legend-Based Obfuscation."
Ben
berdiri, mencoba memperbaiki lilitan jaritnya yang sekarang sudah mirip handuk
mandi.
"Ayo,
Min. Kita harus segera kembali ke markas. Gue harus melakukan de-kontaminasi
tubuh pake sabun colek, dan kita harus merencanakan Bab 6."
"Bab 6
apaan, Bang?"
"Cyber
Security, Min. Gue bakal nge-hack Wi-Fi warung kopi sebelah buat mendownload
peta satelit... atau minimal update status Facebook biar orang tahu kita masih
aktif."
Next Episode ...
(Demi kelancaran aksi Ben-Yamin, jangan lupa share ya... )

Komentar
Posting Komentar