Season 1.2 : GADGET LOW-BUDGET, HIGH-IMPACT

Aroma oli bekas yang bercampur dengan bau bakwan jagung dari seberang jalan adalah parfum wajib di "Markas Taktis" mereka—alias Bengkel Bang Kumis. Bengkel ini nggak cuma tempat ganti ban, tapi menurut Bang Ben, ini adalah Advanced Research and Development Facility yang menyamar dengan sangat sempurna sebagai tempat tambal ban. 

Ben sedang jongkok di depan motor Supra Fit-nya yang bodinya sudah getar semua kalau dipacu di atas 40 km/jam. Dia tidak sedang memperbaiki mesin, melainkan sedang menempelkan sebuah pipa PVC kecil di dekat knalpot menggunakan lakban bening. 

"Min, sini. Lu harus liat prototipe terbaru gue," Ben melambai tanpa menoleh, matanya fokus seolah-olah lagi merakit satelit Starlink. 

Yamin mendekat sambil menenteng dua plastik es mambo yang mulai mencair. "Itu apaan lagi, Bang? Lu mau bikin meriam karbit di knalpot motor?" 

Ben berdiri, mengelap tangannya yang belepotan oli ke celana kargo-nya yang punya kantong lebih banyak daripada fungsinya. Dia berdehem, memasang wajah profesor nuklir yang lagi dapet wahyu. 

"Ini bukan meriam, Min. Secara terminologi Acoustic Engineering, ini adalah Variable Frequency Resonator yang terintegrasi dengan sistem Post-Combustion Audio Intelligence," ujar Ben mantap. 

Yamin bengong, es mambonya netes ke jempol kaki. "Hah? Bahasa Indonesianya apa, Bang?" 

"Bahasa manusianya: Alat sadap yang suaranya disamarkan jadi suara knalpot brong," Ben menjelaskan sambil memutar-mutar pipa PVC itu. "Secara ontologis, suara knalpot itu adalah polusi suara yang diabaikan orang. Nah, kalau kita tanam sensor piezoelektrik di dalam sini, getaran suara dari target di sekitar kita bakal masuk ke frekuensi rendah, lalu dienkripsi secara mekanis lewat tabung paralon ini. Lu denger suara 'brem-brem' itu? Itu sebenarnya adalah data mentah yang lagi di-compress." 

"Bang," Yamin memotong, "itu paralon bekas saluran air kan? Tadi gue liat Bang Kumis nyariin itu buat benerin wastafel." 

"Itulah yang namanya Resourceful Adaptation dalam dunia intelijen, Min! Jangan terjebak pada asal-usul material. Agen sejati itu harus bisa mengubah sampah menjadi alat hek-tek (high-tech). Kita ini beroperasi dengan skema Zero-Budget Architecture. Kita nggak butuh anggaran miliaran dari APBN buat beli alat sadap Israel. Kita cuma butuh kreativitas dan dikit nekat." 

Tiba-tiba, Bang Kumis keluar dari kolong mobil angkot yang lagi diperbaikinya. Mukanya item semua kena jelaga, kumisnya yang baplang itu udah kayak sikat ijuk kena oli. 

"Woi, Ben! Ngapain lu ama paralon gue? Mana lakban bening di meja? Itu buat nempel spion angkot!" teriak Bang Kumis, suaranya kayak knalpot bocor. 

Ben langsung sigap. Dia memberi kode ke Yamin. Ini adalah momen krusial untuk diplomasi lapangan. 

"Tenang, Bang Kumis. Kami sedang melakukan audit struktural terhadap infrastruktur bengkel Abang guna meningkatkan efisiensi aerodinamika alat-alat kerja," Ben bicara dengan nada tenang yang sangat meyakinkan namun sama sekali tidak nyambung. 

Bang Kumis melotot. "Ngomong apaan lu? Bayar dulu itu utang tambal ban minggu kemaren!" 

Ben menoleh ke Yamin. "Protokol Identitas, Min. Sekarang. Biar dia tau siapa yang dia ajak bicara." 

Yamin menghela napas pasrah. Dia berdiri tegak, meski bahunya agak merosot karena beban es mambo. "Kami Ben..." 

Ben menyambar dengan gaya pose ala Charlie’s Angels tapi versi bapak-bapak komplek, "Yamin!" 

"Ben-Yamin!" teriak mereka barengan. 

Bang Kumis terdiam sebentar. Dia garuk-garuk kepalanya yang tertutup topi lusuh. 

"Benjamin? Oh, lu berdua mau narik odong-odong? Ya udah, terserah lu dah. Pokoknya sore ini itu motor harus keluar dari sini, ganggu estetika bengkel gue aja!" 

Setelah Bang Kumis masuk lagi ke kolong angkot, Ben mengusap dadanya. "Fiuh. Social Engineering kita berhasil, Min. Dia terintimidasi sama aura otoritas kita." 

"Terintimidasi matamu, Bang. Itu dia males denger lu ngoceh doang," Yamin menyerahkan es mambo rasa jeruk ke Ben. "Terus sekarang gimana? Misi kita apa?" 

Ben menghisap es mambonya dengan penuh konsentrasi, seolah-olah itu adalah asupan nutrisi khusus astronot. "Kita dapet info valid dari 'Deep Throat' di Grup WhatsApp RT." 

"Siapa? Pak RT?" 

"Bukan, Bu Tejo yang jualan pulsa. Dia bilang, ada aktivitas mencurigakan di rumah kosong ujung gang. Sering ada orang keluar masuk bawa kardus gede-gede jam dua pagi. Secara analisis Spatial Intelligence, itu ada dua kemungkinan: Satu, pabrik narkoba skala rumahan. Dua, gudang distribusi gorengan ilegal tanpa izin BPOM." 

"Emang ada gorengan ilegal, Bang?"

"Di dunia yang penuh konspirasi ini, Min, apa pun bisa jadi ilegal kalau lu nggak bagi-bagi ke aparat lokal. Nah, tugas kita adalah melakukan Initial Reconnaissance. Kita pake 'Gadget' baru gue tadi." 

Ben menuntun motor Supranya keluar bengkel tanpa menyalakan mesin. Katanya biar "Stealth Mode" (padahal biar nggak ketauan Bang Kumis kalau dia belum bayar). Mereka sampai di depan sebuah rumah tua yang catnya sudah mengelupas kayak kulit orang abis kena matahari pantai. 

"Oke, Min. Lu jaga di sini, lakukan Peripheral Surveillance. Kalau ada orang liat, lu pura-pura lagi nyari alamat atau lagi mau nembak cewek lewat chat," perintah Ben.

Ben mendekatkan motornya ke pagar rumah itu. Dia mencabut pipa PVC dari knalpotnya—yang ternyata cuma ditempel asal-asalan—dan menempelkannya ke lubang pagar. Dia menempelkan telinganya ke ujung pipa. 

"Gimana, Bang? Kedengeran apa?" bisik Yamin tegang. 

Ben memejamkan mata, keningnya berkerut hebat. "Gue denger... ada fluktuasi audio dengan frekuensi menengah. Suaranya ritmis, kayak ada proses mekanisasi massa. Tunggu... ini suaranya familiar." 

"Suara mesin cetak duit, Bang? Atau suara timbangan sabu?" 

Ben menjauhkan telinganya sebentar, mukanya serius banget. "Bukan. Ini lebih berbahaya. Ini adalah suara gesekan polimer yang bertemu dengan elemen organik cair pada suhu tinggi." 

Yamin melongo. "Maksudnya apa?" 

"Suara orang lagi goreng krupuk pake plastik, Min! Ini kejahatan kesehatan publik tingkat dewa!" Ben berbisik histeris.

Baru saja Ben mau memanjat pagar, pintu rumah itu terbuka dengan kasar. Seorang pria besar bertato gambar Doraemon di lengannya keluar sambil membawa... plastik sampah gede. 

"Woi! Ngapain lu berdua nempel-nempel di pagar gue?!" bentak si pria tato. 

Ben kaget setengah mati, pipa PVC-nya jatuh ke selokan. Tapi dasarnya Ben, dia nggak boleh kelihatan cupu. Dia langsung berdiri tegak, membetulkan kacamata hitam selotipannya. 

"Selamat siang, Saudara. Kami dari unit khusus Independent Quality Control and Public Security. Kami mendeteksi adanya anomali termal dan emisi gas berlebih dari koordinat hunian Anda," ujar Ben dengan bahasa tingkat tinggi yang bikin si pria tato itu bingung tujuh keliling. 

Pria itu menyipitkan mata. "Lu petugas kelurahan?" 

Ben menoleh ke Yamin. "Sikat, Min!" 

Yamin (dengan sangat-sangat terpaksa): "Kami Ben..." 

Ben (dengan gerakan tangan seperti ninja gagal): "Yamin!"

"Ben-Yamin!" 

Si pria tato itu diam. Satu detik. Dua detik. Tiba-tiba dia tertawa terbahak-bahak sampai tato Doraemon-nya kelihatan kayak lagi joget. "Oalah! Benjamin! Lu mau ngamen ya? Nih, dua ribu! Pergi sana, jangan ganggu gue lagi packing kerupuk kulit buat kondangan!" 

Pria itu melempar koin dua ratus perak yang mendarat tepat di kaki Ben, lalu membanting pintu. 

Ben diam membeku. Dia melihat koin itu, lalu melihat Yamin yang sudah menutup mukanya pake tangan karena malu luar biasa. 

"Min," Ben memungut koin itu. "Lu liat nggak tadi?" 

"Liat apa? Liat kita dipermalukan secara nasional?" 

"Bukan! Lu liat nggak tato Doraemon di lengannya? Itu adalah kode rahasia. Doraemon itu punya kantong ajaib, artinya rumah ini adalah pusat distribusi logistik yang nggak terbatas. Dan koin ini..." Ben menunjukkan koin dua ratus perak itu. "...ini bukan uang receh. Ini adalah Micro-Transmitter yang disamarkan sebagai mata uang kuno. Dia sengaja ngasih ini supaya kita bisa melacak pergerakan dia lewat satelit." 

Yamin cuma bisa menatap langit Bogor yang mulai mendung. "Bang... itu koin asli. Gue mau pulang aja, Bang. Capek jadi intelejen kalau ujung-ujungnya cuma dapet receh." 

"Jangan menyerah, Agen Yamin! Ini baru permulaan dari konspirasi 'Kerupuk Kulit Global'!" Ben menaiki motornya. "Ayo, kita harus kembali ke lab buat menganalisis sidik jari di koin ini pake aplikasi filter Instagram!"

Next Episode ....

(Demi kelancaran aksi Ben-Yamin, jangan lupa share ya... )

Komentar